Siapapun dan Dimanapun Kamu, Menghafallah !
Tidak pernah terbayangkan sebelumnya Saya akan menjadi penghafal Al-Qur'an, penjaga ayat-ayat Allah.swt. Saya terlahir dari keluarga yang tergolong awam, apalagi tentang keutamaan Al-Qur'an. Meski begitu, sejak kecil Ibu Saya memasukkan Saya ke Taman Pendidikan Al-Qur'an, dan dari situ Saya mulai bisa membaca buku iqra'. Saya mulai bisa membaca dengan mushaf Al-Qur'an pada usia 7 tahun. Setiap hari Saya mengeja bacaan dengan dibimbing guru mengaji yang Saya datangi kerumahnya. Saya sangat ingin lancar membaca Al-Qur'an ketika itu. Alhamdulillah Allah.swt. kabulkan permintaan Saya. Saya bisa ikut wisuda tilawah Al-Qur'an dan membuat ibu Saya bangga saat itu.
Dibesarkan oleh orang tua tunggal tentu tidak mudah untuk Saya, setiap hari Saya belajar dan bertekad untuk menjadi anak yang tidak merepotkan orang tua, mengingat Ibu Saya yang sudah bekerja sehari-hari untuk kebutuhan hidup kami.
Sampai Saya berada di tingkat Sekolah Menengah Kejuruan, hafalan Al-Qur'an Saya Alhamdulillah mulai dari surat An-Nas sudah sampai surat Ad-Dhuha, meskipun tidak terlalu lancar. Mengingat sejak Taman Kanak-kanak sampai SLTA saya bersekolah di sekolah umum, yang pelajaran Agama pun hanya 2 jam dalam sepekan. Saya belum tahu keutamaan Menghafal Al-Qur'an, dan Saya hanya membaca Al-Qur'an dengan tilawah seperti biasa saja. Tidak pernah ada yang mengajari dan memberi tahu Saya tentang ilmu Agama, yang Saya tahu hanyalah yang Saya pelajari di sekolah, dan yang Ibu Saya ajarkan, bahwa kita hidup di dunia hanya satu kali jadilah orang baik dan dermawan.
Ketika duduk di kelas dua SMK, hati kecil Saya terpanggil untuk mulai sedikit demi sedikit menghafal Al-Qur'an. Saya mulai membaca artikel dan buku-buku tentang menghafal Al-Qur'an serta keutamaannya. Namun, karena terbatas nya waktu yang Saya miliki, karena Saya harus berjualan dan mengajar privat, ditambah dengan waktu sekolah yang dimulai sejak pagi hingga petang, Saya merasa agak kesulitan menghafal, karena sejak kecil tidak terbiasa juga untuk menghafal. Saya menghafal sendiri, belum disetorkan kepada siapapun, karena Saya tidak tahu harus menyetorkan hafalan Saya pada siapa.
Sampai akhirnya Saya lulus dari SMK hafalan Saya Alhamdulillah sudah bertambah mulai dari surat An-Nas sampai surat Al Buruj, Saya juga sudah hafal surat An-Naba dan surat Al-Waqiah yang merupakan surat favorit Saya.
Pada bulan Ramadhan setelah lulus SMK sambil menunggu masuk awal kuliah, Saya mengikuti dauroh menghafal Al-Qur'an 5 juz dalam 10 hari di daerah Depok, Jawa Barat. Disana Saya bersama 20 peserta lainnya bertemu. Saya bertemu banyak peserta dari berbagai kalangan, profesi, dan usia. Terkagum-kagumlah Saya melihat mereka yang mahasiswa sudah punya hafalan 20 juz, seorang anak yang baru lulus SMP sudah hafal 15 juz, dan banyak lagi. Saya sempat minder bahwa Saya yang sudah mau kuliah belum ada 1 juz Saya hafal. Namun, ada sekitar 5 orang yang juga seperti saya. Melihat mereka semangat, maka mulailah Saya ingat lagi tujuan Saya menghafal untuk lebih dekat dengan Al-Qur'an, agar Allah.swt. ridho dengan Saya, agar Saya bisa membanggakan Ibu saya tercinta.
Mulailah kami menghafal dan saling berbagi tips menghafal. Saya memilih untuk menyetorkan ulang hafalan Saya. Ketika memulai hafalan baru Saya merasa sulit sekali, mungkin karena ekspektasi saya dalam waktu 10 hari saya harus menambah 5 juz. Hari pertama berlalu dan Saya Alhamdulillah baru berhasil menambah hafalan baru 6 baris. Kemudian disana kami melakukan evaluasi, dan mendapat tausyiah indah dari Ustazah pemimpin dauroh tersebut, bahwa kita menghafal tidak perlu merasa dikejar-kejar bukankah kita menghafal agar lengket dan senantiasa mengulangnya, kalau terburu-buru akan lupa. Akhirnya Saya bertekad tidak perlu buru-buru yang penting Saya menikmati dan Saya lancar menghafalnya. Perlahan tapi pasti Saya menghafal dengan tertatih, sampai lah pada surat An-Naziat. Maa Syaa Allah, Saya merasa sangat kesulitan dan sangat terbata, Saya merasa sangat lelah dan tidak sanggup, tapi Saya enggan berhenti Saya mau terus menghafal. Sampai Saya menangis menyetorkannya pada Ustazah pembimbing Saya. Kemudian Saya kembali mendapat nasihat yang menyejukkan hati Saya. Ustazah mengatakan bahwasanya Saya pasti merasa minder melihat teman-teman yang lancar dan banyak dalam menyetorkan hafalannya. Beliau mengatakan bahwa kesulitan itu kita dapat dari banyak faktor. Bisa karena kita melakukan maksiat, sesuatu dari kita apa itu makanan atau pakaian didapatkan dari yang haram, atau bisa karena kita tidak terbiasa membaca dan bercengkrama dengan ayat tersebut sehingga ayat tersebut ingin berlama-lama taaruf dengan kita. Maa syaa Allah melelehlah Saya, dan semakin Saya berusaha membersihkan niat hati dalam menghafal KalamNya.
Alhamdulillah dengan semangat dari teman-teman dan Ustazah pembimbing, kami terutama Saya mampu melewati hari-hari dauroh tersebut dengan nikmatNya menghafal, membaca dan mentadabburi FirmanNya.
Alhamdulillah dengan semangat dan istiqomah dalam waktu 10 hari tersebut Saya berhasil menyetorkan 2 juz hafalan lama dan baru. Suatu kebanggaan tersendiri untuk Saya, yang sebelumnya belum punya hafalan, begitu pula dengan teman-teman yang lain.
Selepas dari SMK, Saya memutuskan untuk kuliah Agama, karena Saya merasa kurang dan belum banyak tahu. Saya juga merasa untuk Ilmu umum mungkin bisa belajar nanti setelah Saya memiliki pondasi Agama yang kuat. Alasan Saya yang lain, yaitu belajar Ilmu Agama harus dari beliau-beliau yang faqih dan ahli tidak sembarangan. Maka tanpa pikir panjang Saya mendaftar dan memulai perkuliahan di Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Dirasat Islamiyah. Saya memilih kuliah disini juga karena Saya bertekad kuliah sambil menyelesaikan hafalan Al-Qur'an Saya.
Awal masuk kuliah Saya merasa kagum, terpesona, malu, sekaligus minder. Melihat Asatidzah yang shalih dan mumpuni Ilmu nya, lingkungan yang islami dan sangat kondusif, serta teman-teman yang banyak sudah hafizhah 30 juz, 20 juz, 15 juz dan banyak lagi. Sebuah lingkungan baru untuk Saya yang sebelumnya bersekolah di umum dan campur antara laki-laki dan perempuan. Dengan melihat dan mengetahui banyak penjaga Al-Qur'an disekeliling Saya , menjadikan semangat Saya terus menggebu untuk senantiasa bersama Al-Qur'an dan menghafalnya. Dari mulai menghafal di suasana kos yang ramai sampai akhirnya tinggal di sebuah asrama Rumah Qur'an dan Alhamdulillah sampai Saya juga bisa berkontribusi mengajar anak-anak tahfizh disana. Sebuah perubahan dan perjalan panjang yang indah yang telah Allah gariskan untuk Saya, kenapa Allah pilihkan Saya jalan ini karena Allah Maha Mengetahui yang paling baik untuk Saya.
Saya menghafal setiap pagi baik sebelum atau sesudah Subuh. Dan menyiapkan nya sejak malam sebelum tidur. Kemudian mengulang hafalan (murajaah) setiap siang dan sore sampai pukul delapan malam tentu dengan diselingi istirahat, makan, dan bersih-bersih. Tentu semua itu disetorkan kepada Ustazah Saya.
Waktu yang kita miliki lebih sedikit dari pada kewajiban dan pekerjaan yang ingin kita lakukan, maka kita harus pandai mengatur waktu. Pagi hari Saya berkutat dengan aktivitas dan ibadah pagi, salah satunya menyetorkan hafalan. Kemudian kuliah sampai zuhur. Siang hari sampai Ashar saya mengajar. Sore saya selesaikan urusan dunia seperti jualan, menulis, membersihkan tempat tinggal, membersihkan badan, dan lainnya. Sore sampai malam setelah pulang mengajar saya mulai murojaah setelah itu belajar. Ah iya, sediakan waktu di setiap kesibukan kita untuk tilawah. Karena tilawah itu penting sekali, targetkan tilawah sebanyaknya dalam sehari tentu semampunya dan tidak dengan dipaksa ya, karena biasanya tilawah juz yang sudah kita hafal akan lebih cepat. Tapi tilawahnya yang tartil ya nikmati , anggaplah Allah sedang berbicara pada kita. Pokoknya manfaatkan waktu sedikit yang kita miliki ini agar tidak berlalu dengan sia-sia.
Disela-sela aktivitas kita , kita sendirilah yang mengatur nya, biasanya Saya mencuci, memasak,saat di jalan dan di kendaraan bisa untuk murajaah jadi waktu santai kita juga banyak. Sekarang jangan di forsir dan menganggap ini berat, jalani dengan santai, ringan, maka Allah yang akan membuat segalanya mudah.
Untuk teman-teman, siapapun kalian, dimanapun kalian, dari latar belakang ataupun profesi apapun, jadilah penghafal Al-Qur'an, mulailah penghafal, dari kita, oleh kita, untuk kita. Niatkan semua untuk Allah, agar kita senantiasa dekat denganNya, dan selalu mengamalkan firmanNya, bukankah Al-Qur'an itu pedoman keseharian kita? Oleh karena itu, manfaatkan yang kalian miliki sekarang, baik itu waktu, usia, tenaga, uang, dan semuanya. Untuk Allah..
Karena menghafal Al-Qur'an bukan untuk disebut hafizhah, tapi menghafal untuk mengamalkan, menghafal untuk hidup, menghafal untuk bahagia. Siapapun kamu, dimanapun kamu, menghafallah dan terus menghafal baik sudah 30 juz atau belum, jangan pernah berhenti apalagi enggan.
Menghafallah dengan cinta untuk meraih ridha Nya. Hadiahkan mahkotamu untuk orangtua tercintamu. Kalian bisa. Aku telah membuktikannya untuk kalian.
Dengan semilyar cinta untukmu saudaraku, sahabatku siapapun dan dimanapun kalian berada. Kalian semua bisa menghafal Al-Quran. Karena Allah yang membuatnya mudah (QS.Al Qamar:14).
-GTC, Lebah Kepik-
Jakarta, 5 Januari 2017
*Tulisan ini ditulis sebagai sharing pengalaman menghafal Al Qur'an bersama para mahasiswi penerima beasiswa Hafizhah 2017.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar